LOKASI WISATA ZIARAH " MAKAM KI AGENG TARUB ( JOKOTARUB ) " KURANG LEBIH 12 KM KE ARAH TIMUR DARI KOTA PURWODADI, TEPATNYA DI DESA TARUB, KECAMATAN TAWANGHARJO KABUPATEN GROBOGAN.

Jumat, 12 Februari 2010

BUTIR-BUTIR PITUTUR LUHUR ( KETUHANAN )


BUTIR-BUTIR PITUTUR LUHUR

( Bahasa Indonesia )


Penulisan Himpunan Pitutur Luhur ini kami maksudkan adalah sebagai usaha pelestarian warisan Budaya Bangsa yang sangat Luhur, yang juga sebagai perwujudan penghargaan terhadap nenek moyang yang telah mewariskan budaya luhur tersebut. Himpunan Pitutur Luhur ini berisi Nasehat, Ajaran Yang baik bagi Bagi Kehidupan manusia sehingga dapat dijadikan pendukung materi pembangunan Kebudayaan yaitu dalam mendukung terpeliharanya Kerukunan Hidup dan Membangun Peradaban Bangsa.

A.KETUHANAN :

1. Aja Mangro Tingal, Aja Salah Tingal, Lan Aja Mangeran Liya :

Makna Aja Mangro Tingal, Aja Salah Tingal, Lan Aja Mangeran Liya adalah bahwa manusia tidak boleh menyekutukan Tuhan.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku dalam MANEMBAH, Pikiran, Persaan, Kemauan secara totalitas dipusatkan kedalam ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ).

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa )

2. Ala Lan Becik Iku gegandhengan, Kabeh Kuwi Saka Kersane Pangeran
( ALLAH. SWT ).


Makna Aling Lan Becik Iku gegandhengan, Kabeh Kuwi Saka Kersane Pangeran (ALLAH. SWT ) adalah bahwa baik dan buruk sebagai totalitas selamanya ada dalam diri seseorang, dan itu adalah kehendak ALLAH. SWT (Tuhan Yang Maha Esa).

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku mengembangkan terus menerus kebaikan di manapun, sehingga keburukan yang ada tidak mendapat kesempatan untuk tampil.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesamanya

3. Alam iki sejatining Guru ;

Makna Alam iki sejatining Guru adalah sesungguhnya alam itu Guru yang sejati, yang mewartakan Kemaha Kuasaan, Kemaha Asihan, Kemaha Murahan dan Ke Maha adilan ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ).

Makna Tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu mencintai alam tempat hidup dan menghidupi secara ragawi atau jasmani seseorang.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ) dan alam semesta.

4. Bhuda Bhudi, Jawa Jawi, Mata Siji ;

Makna Bhuda Bhudi, Jawa Jawi, Mata Siji adalah kesadaran bahwa keutamaan manusia adalah menggunakan akal budi, pengrtian yang benar, dan mata batin dalam berbuat sesuatu.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu berpikir jernih ( positif ) dan berhati bersih.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

5. Eling;

Makna Eling adalah kesadaran bahwa manusia harus berserah diri secara total kepada ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) yang terwujud dalam bentuk perbuatan dan batin.

Makna Tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku yang taat beribadah sesuai dengan keyakinannya dan berperilaku sesuai dengan petunjuk yang telah diatur dalam ajaran masing-masing

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

6. Eling, Percaya, Mituhu lan Taqwa;

Makna Eling, Percaya, Mituhu lan Taqwaadalah aktualnya kesadran merasakan secara total keberadaan ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) dalam diri seseorang, yang melahirkan rasa percaya yang sungguh-sungguh kepada ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ), dan sekaligus melahirkan dinamika hidup sesuai dengan tuntunan-Nya.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu taat beribadah sesuai dengan keyakinannya masing-masing dan berperilaku sesuai dengan aturan dan ajaran kepercayaan masing-masing.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

7. Golek Sampurnaning Urip Lair Batin lan Golek Kasampurnaning Pati;

Makna Golek Sampurnaning Urip Lair Batin lan golek Kasampurnaning Pati adalah kesadaran bahwa manusia bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri untuk mencapai keselamatan baik di dunia maupun di akhirat.

Makna Tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilakuselalu bersemangat sesuai dengan kemampuan, mensyukuri nikmat kemurahan Allah dalambentuk Apapun.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

8. Gusti Anglimuti, Manungsa Linumpatan;

Makna Gusti Anglimuti, Manungsa Linumpatan adalah ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) ada dimana-mana, dan secara total ada di dalam semua ciptaan-Nya.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku mengembangkan kesadaran merasakan keberadaan ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) didalam dirinya, sehingga dinamika hidupnya sepenuhnya berada dalam tuntunan-Nya.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

9. Gusti Iku Cedhak Tanpo Senggolan, Adoh Tanpa Winangenan;

Makna Gusti Iku Cedhak Tanpo Senggolan, Adoh Tanpa Winangenan adalah ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ) itu ada secara total didalam diri seseorang namun tidak dapat dijangkau dengan daya pikir dan daya indera, ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) sangat jauh tanpa batas dari diri seseorang.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku mengembangkan rasa yang telah lepas dari nafsu-nafsu agar mampu merasakan keberadaan ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) dalam dirinya secara nyata.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

10. Gusti Iku Sambaten Nalika Sira Nanndang Kasengsaran Lan Pujinen Yen Sira
Lagi Nampa Kanugrahaning Pangeran ( ALLAH. SWT );


Makna Gust Iku SambatenNalika Sira Nanndang Kasengsaran Lan Pujinen Yen Sira Lagi Nampa Kanugrahaning Pangeran ( ALLAH. SWT ) adalah ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) merupakan sumber cahaya ( Pepadhang ) dan tempat puji syukur disampaikan seseorang.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku dalam duka maupun suka selalu Manembah kepada ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ).

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

11. Hadhepono mukanira iku marang ingkang katon rarahine. Rarahi kang luwih
kang katon Sawehgung;

Makna Hadhepono mukanira iku marang ingkang katon rarahine. Rarahi kang luwih kang katon Sawehgung adalah semua yang tampak dialam semesta merupakan ciptaan dan gambaran wajah ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ).

Makna tresebut duwujudkan dalam sikap dan perilaku sadar dirinya adalah Ciptaan ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ), yang selalu manembah kepada-Nya, dan hidup sesuai dengan tuntunan-Nya.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

12. Heneng ;

Makna Heneng adalah kondisi internal seseorang dimana pikiran, perasaan, dan kemauan dalam keadaan diam total, sehingga ia mampu merasakan Nikmat Cinta Kasih Sayang ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ) yang berada dalam dirinya.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu tenang, arif, penuh cinta kasih kepada siapapun.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

13. Hening ;

Makna Hening adalah keadaan batin seseorang yang jernih dan bersih, sebagai akibat telah diamnya secara total pikiran, perasaan, kemauan, sehingga mampu merasakan dan memancarkan cahaya cinta kasih ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) yang berada dalamdirinya di tengah-tengah sesame hidup.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku tenang, arif, dalam melakukan penghayatan agar dapat menuju kepada ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ).

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesama hidup.

14. Jangan Menyembah Selain Kepada ALLAH;

Makna Jangan Menyembah Selain Kepada ALLAH adalah kesadaran bahwa satu-satunya yang harus disembah adalah ALLAH. SWT (Tuhan Yang Maha Esa).

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu menyembah ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ) dan tidak mempersekutukan-Nya.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

15. Manunggaling Kawula Gusti Atau Jumbuhing Kawula Gusti;

Makna Manunggaling Kawula Gusti Atau Jumbuhing Kawula Gusti adalah menyatunya secara total pikiran, perasaan, dan kemauan seseorang dalam cinta kasih ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) yang berada dalam dirinya.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku penuh cinta kasih kepada siapapun dan apapun, dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan bagaimanapun.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesama hidup.

16. Kawula Mung Saderma, Mobah-mosik kersaning ALLAH Hyang Sukma;

Makna Kawula Mung Saderma, Mobah-mosik kersaning ALLAH Hyang Sukma adalah manusia sekedar menjalankan kewajiban segala gerak kehidupan yang ada karena kehendak ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ).

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku segala gerak kehidupan yang dijalani merupakan kehendak ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ).

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

17. Manembah;

Makna Manembah adalah menghubungkan diri secara sadar: mendekat, menyatu, dan manunggal dengan ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ).

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

18. Manungsa Mung Ngunduh Wohing Pakarti;

Makna Manungsa Mung Ngunduh Wohing Pakarti apapun wujud kehidupan manusia yang dijalani, baik atau buruk, semua itu adalah hasil dari perbuatannya sendiri.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu hidup dalam cinta kasih ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) agar mampu menjalani hidup penuh cinta kasih kepada sesama hidup, dalam rangka mewujudkan kehidupan yang baik.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesama hidup.

19. Mencari Keselamatan dan Kebahagiaan Lahir Batin di Dunia maupun di Alam
Langgeng ;

Makna Mencari Keselamatan dan Kebahagiaan Lahir Batin di Dunia maupun di Alam Langgeng adalah terpenuhinya kebutuhan lahir batin seseorang secara sinergik-harmonis sesuai dengan keharusan kodratinya, yang mengantar seseorang mampu mewujudkan kondisi Manungguling Kawula Gusti di dunia dan nantinya di alam langgeng yang merupakan akhir perjalanan hidup seseorang.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku menjalani hidup sesuai dengan hukum-hukum kodrati yang merupakan manifestasi dari Maha Kuasa, Maha Asih, Maha Adil nya ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ).

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesama hidup.

20. Mohon, Mangesthi, Mangastuti, Marem ;

Makna Mohon, Mangesti, Mangastuti, Marem adalah seseorang perlu sepenuhnya selalu memohon kepada ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ), agar mendapat Rahmat dan Tuntunan-Nya bagaimana seharusnya menjalani hidupnya di dunia, disertai laku menyatukan pikiran, perasaan, kemauan ( mangesthi ) manunggal dalam haribaan cinta kasih ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ), yang menjadikan seseorang berada dalam kondisi manembah secara total kepada ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) ( Mangastuti ) akhirnya seseorang merasakan bahagia, damai, tenteram, dalam wujud ktualnya kepuasan spiritual ( Marem )

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu menjalankan ibadah sesuai dengan petunjuk.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

21. Narimo Ing Pandum;

Makna Narimo Ing Pandum adalah apapun wujud yang di anugerahkan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ) kepada dirinya, diterima dengan penuh lapang dada.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku menjalani kenyataan hidup, apapun wujudnya, dengan tenang, gembira dan damai.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

22. Natas, Nitis, Netes ;

Makna Natas, Nitis, Netes adalah jiwa manusia itu berasal dari ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ), dapat menjadi sempurna kembali kepada ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ), namun dapat pula kembali dilahirkan di dunia, semua itu tergantung perbuatan manusia sendiri.

Makna tersebut dapat diwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu mengembangkan Manembah yang sungguh-sungguh kepada ALLAH. SWT( Tuhan Yang Maha Esa ) agar dapat sempurna kembali kepafa ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ).

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

23. Nenging Pancadriya- Nenging Rasa;

Makna Nenging Pancadriya- Nenging Rasa adalah manembah, panca indera dan rasa dalam keadaan diam total.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku membangun kondisi : “ mbudheg, micek, mbisu “ ( tidak menanggapi apa yang didengar, dan dilihat serta tidak berkata-kata ).

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesamanya.

24. Nora Keguh Kecopaking Iwak, Grombyanging wong, Semilake Wentis Kuning;

Makna Nora Keguh Kecopaking Iwak, Grombyanging wong, Semilake Wentis Kuning adalah dalam menjalankan tapa brata diperlukan kemampuan untuk tidak terpengaruh oleh: kenikmatan lahiriah semata ( Kecopaking Iwak ), galaunya suara orang ( Grombyanging Wong ) , dan dorongan seks yang tidak sehat ( Semilake Wentis Kuning ).

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku mengembangkan budaya hidup suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesamanya.

25. Olah Raga, Olah Rsa , Olah Jiwa ;

Makna Olah Raga, Olah Rsa , Olah Jiwa adalah terjaminnya kondisi raga, rasa, jiwa yang prima, yang siap mewujudkan kondisi Manunggaling Kawula Gusti.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku mengusahakan dinamika hidup ragawi-jiwani sinergik-harmonis sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi mutakhir yang berada dalam bimbingan ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ).

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesame hidup.

26. Ora Kena Melikan ;

Makna Ora Kena Melikan adalah kesadaran bahwa segala sesuatu termasuk kebendaan berasal dari ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ), dan masing-masing diberi hak yang berbeda.

Makna tersebut diwujudkandalam sikap dan perilaku tidak serakah.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

27. Ora Kena Ngresula Marang Peparinge Kang Maha Kuwasa ;

Makna Ora Kena Ngresula Marang Peparinge Kang Maha Kuwasa adalah tidak boleh mengeluh atas segala pemberian ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ).

Makna tersebut duwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu menerima segala pemberian ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) dengan tulus Iklas dan lapang dada.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

28. Ora Rumangsa Bisa, Nanging Bisa Rumangsa Yen Mobah Mosik Kersaning
Allah Hyang
Sukma ;

Makna Ora Rumangsa Bisa, Nanging Bisa Rumangsa Yen Mobah Mosik Kersaning Allah Hyang Sukma adalah kesadaran bahwa manusia tidak memiliki kelebihan apapun karena semua adalah kodrat dari ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ).

Makna tersebut dapat diwujudkan dalam sikap dan perilaku menciptakan keseimbangan dan keselarasan serta menghargai hak-hak yang dimiliki setiap manusia.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesamanya.

29. Owah Gingsiring Kahanan Iku Saka Kersaning Pangeran ( ALLAH. SWT )
Kang Murbeng Jagad ;


Makna Owah Gingsiring Kahanan Iku Saka Kersaning Pangeran ( ALLAH. SWT ) Kang Murbeng Jagad adalah perubahan keadaan itu merupakan kehendak ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ).

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku siap menerima perubahan keadaan dengan lapang dada dan iklas.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

30. Pangeran ( ALLAH. SWT ) Iku Ana ing ngendi papan, Aneng Sira uga ana
Pangeran ( ALLAH. SWT ), Nanging Aja Sira Kumawani Ngaku Pangeran

( ALLAH. SWT );

Makna Pangeran ( ALLAH. SWT ) Iku Ana ing ngendi papan, Aneng Sira uga ana Pangeran
( ALLAH. SWT ) , Nanging Aja Sira Kumawani Ngaku Pangeran( ALLAH. SWT ) adalah sekalipun ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) berada dimana-mana, dan ada pula dalam diri seseorang, namun jangan sekali-sekali ia berani menyatakan bahwa dirinya adalah ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ).

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu sadar bahwa dirinya adalah HAMBA ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ), yang selalu Manembah kepada ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) dan rendah hati.


Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ).

31. Pangeran ( ALLAH. SWT ) Iku Bisa Ngrusak Kahanan Kang Wis Ora
Diperlokake, lan Bisa Gawe Kahanan Anyar kang Diperlokake ;


Makna Pangeran ( ALLAH. SWT ) Iku Bisa Ngrusak Kahanan Kang Wis Ora Diperlokake, lan Bisa Gawe Kahanan Anyar kang Diperlokake adalah ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) –lah yang menentukan keadaan mana yang sudah tidak diperlukan, dan keadaan baru yang diperlukan.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku siap menerima apapun yang telah digariskan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesamanya.

32. Pangeran ( ALLAH. SWT ) Iku Kuwasa Tanpa Piranti, Akarya Jagad Saisine,
Kang Katon lan Kang Ora Kasat Mata ;

Makna Pangeran ( ALLAH. SWT ) Iku Kuwasa Tanpa Piranti, Akarya Jagad Saisine, Kang Katon lan Kang Ora Kasat Mata adalah bahwa kekuasaan ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) itu di luar jangkauan manusia.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku sadar sepenuhnya ke Maha Kuasaan ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ), apapun yang dikehendaki-Nya, maka JADILAH.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

33. Pangeran ( ALLAH. SWT ) Iku Langgeng Tan Kena Kinaya Ngapa, Sangkan
Paraning Dumadi ;

Makna Pangeran ( ALLAH. SWT ) Iku Langgeng Tan Kena Kinaya Ngapa, Sangkan Paraning Dumadi adalah bahwa ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) itu Kekal tidak dapat dijangkau oleh daya pikir yang bagaimanapun, Dia adalah asal dan tujuan dari segala yang dihidupkan.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku secara konsistendan konsekuen menjalani hidup dalam cinta kasih ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ), sehingga perjalanan hidupnya di dunia secara alami selalu memancarkan cinta kasih kepada siapapun dan apapun, dimanapun, kapanpun,dan dalam keadaan bagaimanapun.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesama hidup.

34. Pangeran ( ALLAH. SWT ) Iku Maha Kuwasa, Pepesthen Saka Kersaning
Pangeran ( ALLAH. SWT ) Ora Ana Sing Bisa Murungake ;

Makna Pangeran ( ALLAH. SWT ) Iku Maha Kuwasa, Pepesthen Saka Kersaning Pangeran
( ALLAH. SWT ) Ora Ana Sing Bisa Murungake adalah ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) itu Maha Kuasa, kepastian dari Kehendak ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) tidak ada yang dapat membatalkan.

Makna tersebut duwujudkan dalam sikap dan perilaku siap menghadapi apapun yang terjadi dengan lapang dada.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

35. Pangeran ( ALLAH. SWT ) Iku Maha Welas Lan Maha Asih, Hayuning Bawana
Marga Saka Kanugrahaning Pangeran ( ALLAH. SWT ) ;

Makna Pangeran ( ALLAH. SWT ) Iku Maha Welas Lan Maha Asih, Hayuning Bawana Marga Saka Kanugrahaning Pangeran ( ALLAH. SWT adalah ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) itu Maha Penyayang dan Maha Pengasih, keindahan dunia merupakan anugerah-Nya.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku yang saling mengasihi dan menyayangi di antara sesame manusia dan menciptakan suasana damai dan sejahtera.

Sikap dan Perilaku tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

36. Pangeran ( ALLAH. SWT ) Iku Ngowahi Kahanan Apa Wae Tan Kena Kinaya
Ngapa ;


Makna Pangeran ( ALLAH. SWT ) Iku Ngowahi Kahanan Apa Wae Tan Kena Kinaya Ngapa adalah ALLAH. SWT (Tuhan Yang Maha Esa) itu mengubah keadaan apapun tidak dapat dijangkau dengan dinamika daya piker yang bagaimanapun juga.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilakusiap menghadapi dan menerima perubahan keadaan yang tidak terduga, dengan penuh rasa tanggung jawab dan lapang dada.

Sikap dan Perilaku tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

37. Pangeran ( ALLAH. SWT ) Nitahake Siro iku lantaran saka Biyungiro, Mula
kudu Ngurmati Biyungira ;

Makna Pangeran ( ALLAH. SWT ) Nitahake Siro iku lantaran saka Biyungiro, Mula kudu Ngurmati Biyungira adalah bahwa ibu merupakan seorang yang dipilih ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) sebagai peran serta lahirnya seseorang, karenanya seseorang harus menghormati Ibu.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu menghormati dan berbakti pada Sang Ibu penuh cinta kasih saying dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan yang bagaimanapun.

Sikap dan Perilaku tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan orang tua, terutama ibu.

38. Pangeran ( ALLAH. SWT ) Iku Ora Mbedak-Mbedakake Kawulane ;


Makna Pangeran ( ALLAH. SWT ) Iku Ora Mbedak-Mbedakake Kawulane adalah ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) tidak membeda-bedakan makhluknya, artinya ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) mencintai manusia tanpa memandang perbedaan seperti kaya atau miskin, pandai atau bodoh, tua atau muda, cantik ataupun jelek dan sebagainya.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku mencintai sesame manusia tanpa membeda-bedakan atas dasar status, usia, jenis kelamin dan sebagainya.

Sikap dan Perilaku tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesamanya.

39. Pangeran ( ALLAH. SWT ) Iku Siji, Ana Ing Ngendi-Endi Papan, Langgeng,
Sing
Nganaake Jagad Saisine, Dadi Sesembahan Manungsa Alam Kabeh,
Nganggo
Carane Dhewe-dhewe ;

Makna Pangeran ( ALLAH. SWT ) Iku Siji, Ana Ing Ngendi-Endi Papan, Langgeng, Sing Nganaake Jagad Saisine, Dadi Sesembahan Manungsa Alam Kabeh, Nganggo Carane Dhewe-dhewe adalah ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) itu satu, ada dimana-mana, Langgeng. Menjadi sesembahan manusia sejagat dengan caranya sendiri-sendiri.

Makna tersebut duwujudkan dalam sikap dan perilaku sadar bahwa yang disembah Manusia sejagad hanyalah sat ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) tetapi caranya yang berbeda-beda, tetap menghormati, menghargai, bersahabat, bersaudara, dan mencintai siapapun sekalipun caranya Manembah kepada ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) berbeda.

Sikap dan Perilaku tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesamanya.

40. Pan Kawula Duwene Mung Sifat Derma ;

Makna Pan Kawula Duwene Mung Sifat Derma adalah manusia hanyalah memiliki kewajiban, yakni kewajiban Manembah kepada ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ).

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku menjalani hidup sebagai sebuah pengabdian kepada ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ).

Sikap dan Perilaku tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

41. Pan Kawula Nora Kuwasa ;

Makna Pan Kawula Nora Kuwasa adalah manusia tidak memiliki kekuasaan apa-apa , yang memiliki kekuasaan hanyalah ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ).

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku bersahaja, sopan, santun, menghormati,menghargai, bersahabat, bersaudara, mencintai siapapun dan apapun.

Sikap dan Perilaku tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesama hidup.

42. Pasrah Gesang Dhateng Pangeran ( ALLAH. SWT ) ;

Makna Pasrah Gesang Dhateng Pangeran ( ALLAH. SWT ) adalah menyerahkan hidup yang dijalani kepada ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ).

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu menerima apapun yang mengenai dirinya dengan lapang dada.

Sikap dan Perilaku tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

43. Pasrah Marang Pangeran ( ALLAH. SWT ) Iku Ora Ateges Ora Gelem Nyambut
Gawe, Nanging Percoyo yen Pangeran ( ALLAH. SWT ) Iku Maha Kuwasa, Dene
Kasil Orane apa kang kita Sedya Kuwi Marga Saka Kersaning Pangeran
( ALLAH. SWT );


Makna Pasrah Marang Pangeran ( ALLAH. SWT ) Iku Ora Ateges Ora Gelem Nyambut Gawe, Nanging Percoyo yen Pangeran ( ALLAH. SWT ) Iku Maha Kuwasa. Dene Kasil Orane apa kang kita Sedya Kuwi Marga Saka Kersaning Pangeran ( ALLAH. SWT ) adalah semua upaya yang kita lakukan selalu disertai rasa berserah diri dan bersandar pada kehendak ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ).

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku sadar perlunya bekerja dengan sungguh-sungguh, namun sadar pula bahwa ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) yang menentukan hasilnya.

Sikap dan Perilaku tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

44. Purwa Madya Wasana ;

Makna Purwa Madya Wasana adalah ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) telah menggariskan, awal kehidupan seseorang itu berada dalam kandungan ibu, kemudian lahir, tumbuh, dan berkembang didunia, akhirnya kembali keharibaan ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ).

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perlaku selalu mengisi kehidupan dengan perbuatan baik dan menjauhi berbagai larangan ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) sehingga diterima pada saat kematiannya tiba.

Sikap dan Perilaku tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesama.

45. Sabgja-begjane kang lali, Luwih begja kang Eling klawan Waspada ;

Makna Sabgja-begjane kang lali, Luwih begja kang Eling klawan Waspada adalah bahwa manusia tidak boleh lupa kepada ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) dan tidak boleh lengah terhadap lingkungan sekitarnya.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu menyembah ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ) dan mempertimbangkan segala sesuatu sebelum bertindak.

Sikap dan Perilaku tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

46. Sangkan Paraning Dumadi ;

Makna Sangkan Paraning Dumadi adalah bahwa ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) itu Kekal tidak dapat dijangkau oleh daya pikir yang bagaimanapun, Dia adalah asal dan tujuan dari segala yang dihidupkan.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku secara konsistendan konsekuen menjalani hidup dalam cinta kasih ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ), sehingga perjalanan hidupnya di dunia secara alami selalu memancarkan cinta kasih kepada siapapun dan apapun, dimanapun, kapanpun,dan dalam keadaan bagaimanapun.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesama hidup.

47. Sangkan Paraning Urip ;

Makna Sangkan Paraning Urip adalah bahwa ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ) itu Kekal tidak dapat dijangkau oleh daya pikir yang bagaimanapun, Dia adalah asal dan tujuan dari segala yang dihidupkan.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku secara konsistendan konsekuen menjalani hidup dalam cinta kasih ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ), sehingga perjalanan hidupnya di dunia secara alami selalu memancarkan cinta kasih kepada siapapun dan apapun, dimanapun, kapanpun,dan dalam keadaan bagaimanapun.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesama hidup.

48. Sujud Manembah Pangeran ( ALLAH. SWT ) Kang Maha Kuwasa ;

Makna Manembah adalah menghubungkan diri secara sadar: mendekat, menyatu, dan manunggal dengan ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ).

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

49. Sumarah Lan Sumendhe Marang Kersaning Gusti ;

Makna Sumarah Lan Sumendhe Marang Kersaning Gusti adalah semua upaya yang dilakukan selalu disertai rasa berserah diri dan bersandar pada kehendak ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ).

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku sadra perlunya bekerja dengan sungguh-sungguh, namun sadar pula bahwa ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa )-lah yang menentukan hasilnya.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

50. Tansah Ajeg Mesu Budi Lan Raga Nganggo Cara Ngurangi Mangan lan Turu;

Makna Tansah Ajeg Mesu Budi Lan raga Nganggo Cara Ngurangi Mangan lan Turu adalah kesadaran bahwa hidup dan jiwa yang bersih terbenruk dari kebiasaan-kebiasaan yang teratur dan tidak makan atau tidur berlebihan.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku taat beribadah sesuai dengan keyakinannya masing-masing dan menghindari segala makanan dan tidur yang tidak menyehatkan.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ) dan dirinya sendiri.

51. Tapa Brata ;

Makna Tapa Brata adalah menjalankan laku manembah untuk mendekat, menyatu, dan manunggal kepada ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ).

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku, menjadikan tapa brata sebagai budaya hidup sehari-hari dengan menghindari nafsu-nafsu, menjalankan puasa dan seabgainya.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa )

52. Tawakal ;

Makna Sumarah Lan Sumendhe Marang Kersaning Gusti adalah semua upaya yang dilakukan selalu disertai rasa berserah diri dan bersandar pada kehendak ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa ).

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku sadra perlunya bekerja dengan sungguh-sungguh, namun sadar pula bahwa ALLAH. SWT ( Tuhan Yang Maha Esa )-lah yang menentukan hasilnya.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ).

53. Waspada ;

Makna Waspada adalah selalu awas terhadap segala hal yang tidak sesuai dengan nilai luhur Ketuhanan Yang Maha Esa.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku setiap perbuatan apapun selalu dilambari rasa Ketuhanan yang Maha Esa.

Sikap dan Perilaku Tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan ALLAH. SWT
( Tuhan Yang Maha Esa ) dan sesamanya.



DOWNLOAD FILE KLIK DISINI


Dihimpun Oleh : KRT. Priyohadinagoro ; 2010.02


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar